Senori – Dengan didampingi anggota Bhabinkamtibmas, Kapolsek Senori Polres Tuban AKP Ali Kanapi, S.H., bersama Forkopimcam dan Kapuskeswan Kecamatan Senori drh. Teguh Setiawan, melaksanakan pengecekan ternak sapi yang diduga terserang penyakit mulut dan kuku (PMK).

Ternak sapi yang diduga terjangkit PMK tersebut milik Yatono (52th) warga Desa Katerban Kecamatan Senori. Ada 6 ekor sapi milik Yatono yang diketahui mempunyai gejala-gejala terserang PMK.

Kapolres Tuban AKBP Darman, S.I.K., melalui Kapolsek Senori AKP Ali Kanapi, S.H., menjelaskan pihaknya mendapatkan laporan dari Bhabinkamtibmas bahwa di Desa Katerban ada sapi milik warga yang diduga terjangkit PMK.

Setelah mendapatkan laporan dari anggota Bhabinkamtibmas kita bersama Forkopimcam dan Kapuskeswan Kecamatan Senori melakukan langkah-langkah pencegahan diantaranya melakukan pengobatan kepada hewan yang sakit dan penyemprotan desinfektan di kandang.

“Menurut Kapuskeswan besar kemungkinan 6 ekor sapi tersebut akan segera sembuh setelah dilakukan pengobatan dan penyemprotan desinfektan,” jelas Kapolsek Senori di lokasi kandang sapi, Jum’at (20/5/2022).

AKP Ali Kanapi menambahkan, selain memantau kesehatan ternak, dia bersama rombongan juga menghimbau kepada pemilik ternak untuk tidak menjual sapinya terlebih dahulu untuk mencegah penularan PMK ke hewan ternak yang lain.

“Kalau sudah dinyatakan benar-benar sembuh oleh dokter hewan baru bisa dijual, agar tidak menular ke ternak yang lain,” pungkas Kapolsek Senori.

Sementara itu Yatono, pemilik sapi menjelaskan, awalnya dia membeli 1 ekor sapi di pasar hewan Jatirogo, pada waktu dibeli sapi tersebut terlihat sehat. Akan tetapi setelah 2 hari di kandang sapi yang baru dibeli tersebut tidak mau makan dan mulut mengeluarkan lendir dan berbusa serta kakinya pincang.

Sehari kemudian 5 sapi lain yang berada di kandang yang sama mengalami gejala yang sama, kemudian kami menghubungi dokter hewan untuk memeriksa kondisi sapi-sapi tersebut.

“Menurut dokter hewan sapi-sapi saya diduga terjangkit PMK, saat itu juga langsung dilakukan pengobatan dan penyemprotan desinfektan di kandang,” terang Yatono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here